|
Siaran Pers |
| IFG Gandeng Financial Services Development Council Hong Kong Perkuat Tata Kelola Investasi melalui Sosialisasi Asset Liability Management |
Jakarta, 11 Februari 2026 — Indonesia Financial Group (IFG) menyelenggarakan sharing session bertema “Bridging Financial Centres: Pathways in Insurance and Capital Markets” sebagai bagian dari penguatan tata kelola pengelolaan aset dan kewajiban (Asset Liability Management/ALM). Kegiatan ini menghadirkan Executive Director dari Financial Services Development Council, Rocky Tung, serta diikuti oleh perwakilan IFG dan anggota holding.
Forum ini menempatkan ALM sebagai fondasi utama keberlanjutan industri asuransi dan dana pensiun. Melalui pendekatan siklus PDCA (Plan, Do, Check, Action), ALM mencakup proses pengumpulan data, analisis, pelaporan, hingga penetapan strategi pengelolaan aset dan kewajiban. Tujuan akhirnya adalah mengeliminasi risiko, memperkuat tata kelola investasi, serta memastikan perlindungan optimal terhadap dana nasabah yang dikelola.
Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S. Adji, menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi industri asuransi dan dana pensiun di Indonesia banyak berakar pada praktik pengelolaan aset dan liabilitas yang kurang prudent. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara kewajiban perusahaan dan ketersediaan aset, yang pada akhirnya berdampak pada kemampuan pemenuhan janji kepada pemegang polis.
“Prioritas utama perusahaan yang bergerak di asuransi dan dana pensiun adalah memastikan dana nasabah pemegang polis harus aman. Pengelolaan aset dan liabilitas yang disiplin menjadi kunci menjaga tingkat kesehatan perusahaan serta keberlanjutan industri,” ujar Denny.
Ia menambahkan, praktik ALM yang tidak prudent dapat berdampak pada defisit tingkat kesehatan perusahaan asuransi maupun dana pensiun. Oleh karena itu, penerapan Liability Driven Investment (LDI) menjadi elemen penting dalam optimalisasi ALM. Pendekatan ini menyesuaikan strategi investasi dengan profil liabilitas dalam kerangka risk appetite yang telah ditetapkan, guna meminimalkan potensi mismatch aset-liabilitas.
Framework LDI umumnya mencakup tiga komponen utama, yakni Liability Profile Analysis, Liability Hedge Portfolio, serta Return Seeking Portfolio. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mengelola risiko secara terukur sekaligus tetap mengejar pengembalian investasi yang relevan dengan rencana bisnis.
Dalam paparannya, Rocky Tung menekankan bahwa pengelolaan aset dan kewajiban yang efektif merupakan prasyarat utama stabilitas keuangan.
“Pengelolaan aset dan kewajiban yang efektif sangat krusial untuk menjaga kesehatan dan stabilitas keuangan suatu entitas. Kerangka ALM yang komprehensif dalam industri asuransi menitikberatkan pada stabilitas dan profitabilitas jangka panjang dengan menjaga likuiditas, mengelola kualitas kredit, serta memastikan ketersediaan modal operasional yang memadai,” jelas Rocky.
Ia menambahkan, ALM berperan penting untuk memastikan solvabilitas perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang, mengidentifikasi serta memitigasi risiko utama seperti risiko suku bunga, likuiditas, dan risiko pasar, sekaligus mengoptimalkan imbal hasil berbasis risiko melalui diversifikasi dan penyesuaian durasi aset-liabilitas.
“Melalui ALM, perusahaan dapat memastikan kemampuan memenuhi kewajiban, mengelola risiko suku bunga akibat pergerakan nilai aset dan kewajiban yang berbeda, mengantisipasi risiko likuiditas ketika aset likuid tidak mencukupi, serta memitigasi risiko pasar akibat fluktuasi ekuitas, kredit, maupun nilai tukar. Selain itu, stabilitas keuangan dijaga dengan menyelaraskan arus kas masuk dari aset dengan proyeksi arus keluar klaim dan kewajiban,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, IFG mendorong peningkatan pemahaman mengenai prinsip, tujuan, fungsi, dan jenis ALM, khususnya di sektor asuransi. Upaya ini diharapkan memperkuat praktik pengelolaan investasi yang sehat, menjaga stabilitas keuangan perusahaan, serta memberikan perlindungan berkelanjutan bagi pemegang polis dan peserta dana pensiun.