|
Siaran Pers |
Jakarta, 28 November 2025 - Di tengah dinamika lanskap industri keuangan, khususnya industri
keuangan non-bank yang kian menuntut transparansi serta kehati-hatian, Indonesia Financial Group
(IFG) selaku holding BUMN di bidang asuransi, penjaminan, dan investasi yang merupakan bagian dari
Danantara Indonesia, terus memperkuat transformasi tata kelola pengelolaan investasi di seluruh
ekosistemnya. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memastikan kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban masa depan terhadap nasabah dan pemegang polis.
“Sebelum IFG dibentuk sebagai holding, pencatatan investasi di setiap perusahaan asuransi anggota
holding belum dilakukan secara seragam. Banyaknya kustodian, broker, dan manajer investasi yang
digunakan masing-masing entitas menyebabkan biaya investasi menjadi tinggi. Kini, biaya tersebut dapat
ditekan dan dioptimalkan melalui transformasi sistem,
” ungkap Direktur Keuangan IFG Heru Handayanto.
Menurut Heru, kondisi tersebut kini telah berubah drastis. IFG mentransformasi seluruh sistem
pengelolaan dan monitoring aset investasi dengan prinsip efisiensi, standar tata kelola, dan akuntabilitas
yang kuat.
“Sekarang dengan metode ini, biaya investasi menjadi jauh lebih efisien, pencatatannya kini juga seragam
dan sesuai standar akuntansi yang berlaku,
” tambahnya.
Transformasi kian krusial mengingat sekitar 70% dari total aset IFG merupakan aset investasi yang harus
dikelola dengan prudent serta penuh kehati-hatian untuk memastikan seluruh keputusan investasi
sejalan dengan prinsip manajemen risiko dan mengedepankan kemampuan perusahaan memenuhi
kewajiban jangka panjang.
“Bagi perusahaan asuransi, strategi investasi harus berbasis Liability Driven Investment (LDI). Artinya, kita
tidak perlu mengejar imbal hasil setinggi-tingginya, tapi memastikan hasil yang sehat, berkelanjutan, dan
cukup untuk memenuhi klaim pemegang polis,
” jelasnya.
Strategi tersebut dijalankan melalui empat pilar utama, mulai dari manajemen risiko yang ketat, proses
bisnis terintegrasi menggunakan Straight Through Processing (STP), standar akuntansi internasional
dengan pemantauan berlapis, serta profesionalisasi pengelolaan aset dengan mempercayakan investasi
kepada Bahana TCW Investment Management, salah satu manajer investasi terbesar di Indonesia
sekaligus anggota holding IFG.
“Ke depan, sekitar 95% aset investasi di anggota holding asuransi IFG akan dikelola secara profesional
oleh Bahana TCW. Ini seperti praktik perusahaan asuransi global, dimana kami telah melakukan
benchmarking,
” ujar Heru.Transformasi investasi IFG tidak hanya pada strategi, tetapi juga infrastruktur digital yang mendukungnya.
IFG dan seluruh anggota holding kini mengimplementasikan satu sistem monitoring investasi terpadu
sebagai shared service, yang menghubungkan seluruh rantai proses bisnis, mulai dari pencatatan polis,
manajemen risiko, hingga pembukuan dan pelaporan investasi.
“Sebelumnya banyak proses masih manual, bahkan ada metode-metode perhitungan persediaan
portofolio yang tidak sesuai standar pasar dan best practice dalam pencatatan. Sekarang tidak bisa lagi.
Semua berjalan melalui sistem yang sama dan terstandar. Ini bukan hanya efisiensi, tapi juga
perlindungan bagi pemegang saham dan pemegang polis,
” tegas Heru.
Transformasi ini telah menunjukkan hasil yang nyata. Kinerja aset investasi IFG tercatat selalu di atas
target dan tetap dalam koridor kehati-hatian. Terbukti dengan pencapaian hasil investasi tahun 2024
sebesar Rp5,4 triliun, berhasil mencatatkan peningkatan pencapaian sebesar 8,32% dibanding tahun
2023. Selain itu, yield investasi juga terjaga di kisaran 6,2%.
“Yield kami selalu melampaui target dan kami hanya berinvestasi pada instrumen dengan kualitas
terbaik,
” jelas Heru.
Bagi IFG, keberhasilan ini bukan sekadar angka di laporan keuangan. Ini adalah bukti bahwa tata kelola
yang baik, efisiensi sistem, dan profesionalisme menjadi fondasi untuk mencapai kinerja yang optimal.
Selain itu, transformasi pengelolaan investasi IFG menunjukkan bagaimana holding BUMN ini
menempatkan akuntabilitas dan keberlanjutan sebagai fondasi utama dalam menjalankan bisnis. Lebih
dari sekadar memenuhi regulasi, langkah ini menjadi wujud tanggung jawab moral terhadap jutaan
pemegang polis dan masyarakat yang mempercayakan masa depannya kepada industri asuransi nasional.
“Tujuan akhirnya, bagaimana memastikan setiap rupiah yang kita kelola mampu memenuhi kewajiban
jangka panjang dan memberi ketenangan bagi para nasabah,
” tutup Heru.